BINTANG SAKINAH: Tenang Dan Diamlah Bila Suami Sedang Marah

Monday, November 7, 2016

Tenang Dan Diamlah Bila Suami Sedang Marah


Para istri yang baik, seorang suami akan bertemu banyak orang ketika ia sedang melaksanakan tugas yang berhubungan dengan pekerjaannya, dan sudah dipastikan bahwa ia menjumpai banyak persoalan.

Ketika pulang ia merasa lelah dan lusuh, maka ketika dihadapkan dengan persoalan sekecil apapun di rumah ia pun dapat terpancing amarahnya dan menyakiti keluarganya jika istrinya tidak bijak dalam membaca situasi dan kondisi dirinya.
Seorang istri yang bijaksana akan diam dan tenang bila suaminya sedang marah, dan itu bisa menjadikan suami menjadi tenang dan menyesali kemarahannya terhadap keluarganya.

Jika ia merasakan tidak ada reaksi atas kemarahannya, maka ia pun akan meminta maaf. Dengan pendekatan ini, keadaan keluarga akan kembali normal hanya dalam satu atau dua jam.
Namun bila istri tidak mengerti keadaan suaminya, maka ia akan berteriak, menyumpah, mengutuk dan melawan dengan sengit. Dengan pendekatan semacam ini sangat tidak baik, karena kemungkinan suami istri akan bertengkar bahkan berakhir dengan perceraian.

Banyak keluarga yang pecah karena alasan yang kecil dan sepele. Ada juga masalah-masalah dimana seorang suami menjadi marah sehingga meledak seperti gunung berapi dan bisa saja melakukan pembunuhan.

Apakah tidak lebih baik bila seorang wanita itu tetep diam ketika suaminya marah-marah?

Apakah akan tetap terjadi pertikaian bila istri telah bersabar dan tidak melawan?

Apakah lebih baik diam sejenak atau melawan suami ketika sedang marah dengan menerima akibat yang mungkin bisa jadi mengerikan?

Jangan berpikir disini suami dibela dan tidak dianggap salah. Tidak sama sekali. Tentu saja ia bersalah. Ia tidak boleh menumpahkan kemarahannya kepada keluarganya.

Mungkin sebagian wanita biasanya berpikir bahwa diam ketika menghadapi kemarahan suaminya akan mengecilkan diri mereka, dan akan membuat mereka kehilangan kehormatan.

Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Seorang pria yang sedang marah kepada istrinya, bila ia melihat tidak adanya perlawanan, maka ia akan diliputi oleh rasa penyesalan. Ia akan menganggap istrinya sebagai wanita yang penuh kasih dan sayang. Dan ia beranggapan bahwa walaupun mungkin istrinya dapat membalasnya, tetapi ternyata lebih suka memaafkannya.
Cintanya kepada istrinya akan berlipat ganda, dan ia pun akan segera meminta maaf dan sang istri pun akan lebih dihormati.

Rasulullah Shalallahu'AlaihiWassalam bersabda :

"Istri yang mau menerima sifat pemarah suaminya, akan diberi ganjaran oleh Allah Subhanahuwataalaa dengan ganjaran yang sama seperti yang diberikan kepada Aisyah binti Muzhahim (Istri Fir'aun)".

"Istri yang terbaik adalah yang bila melihat suaminya marah, mengatakan: "aku menyerah kepada apa yang kau inginkan. Aku tidak akan dapat tertidur bila engkau tidak merasa puas terhadapku".

"Pemberi maaf dan sikap menerima akan mempertinggi kehormatan pemiliknya. Berikanlah maaf agar Allah Subhanahuwataalaa menyayangimu".