Kebahagiaan dalam keluarga adalah suatu keadaan dimana pikiran atau perasaan tenang dan tentram yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan yang semuanya bisa dirasakan oleh semua anggota keluarga secara intens.
Kegembiraan, ketentraman dan ketenangan hati adalah kenikmatan terbesar yang bisa membuat keluarga menjadi bahagia, karena didalamnya terdapat keteguhan hati, produktivitas yang bagus dan keriangan jiwa saat berpikir.
Kebahagiaan adalah seni yang dapat dipelajari, artinya siapa yang dapat mengetahui cara memperoleh, merasakan dan menikmatinya maka ia dapat memanfaatkan pelbagai kenikmatan dan kemudahan hidup.
Tidak ada orang yang menginginkan kekacauan maupun kegagalan dalam membentuk keluarga yang sejahtera, namun terkadang bisa saja semua itu menghampiri ketika kita kehilangan sumber-sumber yang dapat membentuk kebahagiaan dalam keluarga. Keluarga bisa saja menjadi surga yang agung karena terus disirami ketentraman dan ketenangan hati, namun bisa juga menjadi neraka yang menyala karena tidak pernah menemukan kebahagiaan didalamnya.
Setiap orang pasti akan berlomba-lomba untuk mencapai keharmonisan dan kesejahteraan serta kebahagiaan keluarganya. Namun mereka yang mampu meraihnya adalah mereka yang mempunyai kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan-goncangan, dan tidak gentar oleh peristiwa-peristiwa serta tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sepele karena mereka mengetahui dari mana datangnya sumber-sumber yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk keluarganya.
Demikianlah, semakin bisa menemukan sumber-sumber kebahagiaan maka akan semakin kuat dan jernih hati seseorang sehingga semakin bersinar pula jiwanya dalam menyongsong kebahagiaan didalam keluarganya.
Dan keluarga yang bahagia adalah keluarga yang didalamnya mempunyai sumber-sumber ketenangan dan ketenteraman yang mengalir sesuai dengan akidah dan syariat agama, sehingga tercapai kehidupan yang barokah, sakinah, mawaddah dan warohmah.
Lantas apa sajakah sumber-sumber yang dapat mendatangkan kebahagiaan didalam keluarga? Berikut ini adalah sumber-sumber yang bisa anda pelajari demi untuk mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera:
1. Anak yang shaleh
Bahasa shaleh berasal dari bahasa amal shaleh, amal berasal dari peribahasa arab yang artinya perbuatan atau tindakan, sedangkan shalih artinya yang baik atau yang patut. Jadi istilah amal shalih adalah perbuatan baik yang memberikan manfaat kepada pelakunya didunia dan balasan pahala yang berlipat di akhirat.
Dan anak-anak yang shaleh ialah anak-anak yang bersikap dan berperilaku baik. Mereka tidak saja sopan santun terhadap orang tuanya, tetapi juga taat kepada Allah dalam melakukan ibadah kepada-Nya.
Dan hubungannya dengan sumber kebahagiaan adalah dimana sebuah keluarga yang didalamnya dihiasi dengan anak-anak yang mempunyai budi pekerti yang luhur, selalu mengerjakan amalan-amalan yang baik. Yang telah dijanjikan oleh Allah kelak diakhirat akan dikumpulkan dengan orangtuanya didalam surga. Hal ini berarti bahwa didunia ini anak-anak shaleh dapat memberi suasana bahagia dalam rumahtangga dan juga memberikan berkah kepada orang tua.
Allah berfirman :
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya
(QS. Ath-Thuur: 21)
(QS. Ath-Thuur: 21)
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan
(QS. Lukman 15)
(QS. Lukman 15)
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui
(QS. Lukman: 16)
(QS. Lukman: 16)
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan) oleh Allah)
(QS. Lukman: 17)
(QS. Lukman: 17)
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri
(QS. Lukman: 18)
(QS. Lukman: 18)
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ ۚ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai
(QS. Lukman: 19)
(QS. Lukman: 19)
ِ وَالْعَصْرِ
Demi masa
(QS Al-Ashr ayat: 1)
(QS Al-Ashr ayat: 1)
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
(QS Al-Ashr ayat: 2)
(QS Al-Ashr ayat: 2)
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran
(QS Al-Ashr ayat: 3)
(QS Al-Ashr ayat: 3)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan
(QS. An-Nahl: 97)
(QS. An-Nahl: 97)
Rumahtangga dengan anak-anak shaleh pasti sangat membahagiakan, karena anak-anak selalu menjadi penyejuk bagi orangtua, dan di tengah masyarakat mereka pasti mengharumkan nama orang tua.
Maka dari itu agar kita memperoleh kebahagiaan yang hakiki dan dapat menciptakan keluarga yang sakinah penuh berkah,maka sebuah keluarga harus membina dan menjadikan anak-anaknya shaleh.
Baca juga: Pengalaman sahabat menyikapi pendidikan anak
Maka dari itu agar kita memperoleh kebahagiaan yang hakiki dan dapat menciptakan keluarga yang sakinah penuh berkah,maka sebuah keluarga harus membina dan menjadikan anak-anaknya shaleh.
Baca juga: Pengalaman sahabat menyikapi pendidikan anak
2. Istri Sholehah
Istri yang Sholehah adalah seorang istri yang pandai memposisikan diri dimanapun dan kapanpun, terhadap diri sendiri, keluarga (terutama suami) dan lingkungannya. Seorang istri yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya denga selalu memelihara sifat-sifat berikut ini:
*Penuh kasih sayang, dan selalu kembali kepada suaminya serta selalu mencari maafnya.
*Melayani suami dengan ikhlas mulai dari pagi dengan menyiapkan makanan, mencuci, membersihkan tempat tidur membereskan pakaian dan semuanya.
* Selalu menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih berkaitan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya.
* Selalu berpenampilan bagus dan menarik dihadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang terasa menyenangkan dan membahagiakan.
* Tidak menyibukkan diri dengan sesuatu walaupun itu baik yang dapat menghalangi kemesraan, ketika suaminya berada dirumah.
* Bergegas memenuhi ajakan suami ketika suami sedang berhasrat tanpa penolakan kecuali alasan syar'i, dan tidak menjauhi tempat tidur suami.
* Tidak membebani suami dengan sesuatu yang suaminya tidak mampu.
Dan hubungannya dengan kebahagiaan adalah dia pandai dalam mengatur rumahtangga dan menyelesaikan urusan rumahtangga yang membuat suaminya bahagia.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa
(QS. Al-Furqan: 74)
(QS. Al-Furqan: 74)
3. Rumah yang luas
Yang dimaksud dengan rumah yang luas adalah rumah yang ruangannya cukup memenuhi kebutuhan anggota keluarganya, baik itu untuk tidur, istirahat, maupun bercengkrama atau berdiskusi sesama anggota keluarga, serta dapat menampung tamu atau kerabat yang datang. Dan ketika mereka harus menginap dengan istirahat serta tidur dengan tenang dan merasa betah.
Dengan rumah yang luas dan memiliki banyak kamar akan mudah mengatur agar tidur anak perempuan dan tidur anak laki-laki bisa terpisah dengan mempunyai kamar sendiri-sendiri. Sehingga ketentuan syariat bisa dijalankan dalam mendidik anak mematuhi tata pergaulan islam dan mengetahui batas-batas pergaulan dimana laki-laki dan perempuan dalam masyarakat tidak boleh bergaul bebas bila mereka bukan sesama muhrim.
Rumah yang luas juga dapat memberikan kelapangan penghuninya dengan memberikan ketenangan kepada tamu atau kerabat yang berkunjung dan harus menginap, sehingga rumah tersebut akan membawa berkah kepada keluarga dan orang-orang yang berkunjung kepadanya. Keluarga yang memiliki rumah seperti ini akan memperoleh kebahagiaan.
4. Penghasilan yang cukup dan halal
Keluarga dengan penghasilan yang baik dan halal, akan senantiasa bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang Allah karuniakan kepadanya, berapapun penghasilan mereka, dengan mengambil berkah dari rizki yang Allah berikan.
Dengan penghasilan yang baik, akan menjadikan diri sesorang akan selalu ingat kepada Allah tentang tanggungjawabnya atas harta yang dikaruniakan kepadanya dengan membelanjakannya pada jalan yang bermanfaat dunia dan akhirat. Dengan demikian hartanya akan memberikan berkah kepada orang lain yang memerlukan uluran tangannya, karena ia tidak sendirian dalam menikmati hasil keringatnya dan orang-orang yang memerlukan bantuannya juga menikmati kelebihan harta yang dimilikinya tersebut.
Harta yang baik lagi cukup akan memberikan keuntungan psikologis dan materiil kepada pelakunya, keluarganya, dan masyarakat disekitarnya. Sehingga dengan ketenangan dan ketenteraman akan senantiasa diperoleh kebahagiaan kepada seisi rumah serta memberikan manfaat kepada masyarakat disekitarnya.
Dari 'Abdullah bin Mas'ud ra., ia berkata: "Rasulullah Shalallahu'AlaihiWassalam bersabda:
"Sesungguhnya Allah, Tuhan Mahaperkasa lagi Mahamulia telah membagi perilaku kamu sebagaimana Dia telah membagi rizki diantara kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia memberikan dunia ini kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai, tetapi tidak memberikan agama, kecuali hanya kepada yang Dia cintai. Barang siapa yang diberi-Nya agama, berarti dia sungguh-sungguh dicintai-Nya. Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, seseorang tidak menjadi islam sebelum hati dan lidahnya menjadi islam. Seseorang tidak beriman sebelum tetangganya selamat dari gangguan-gangguannya.
'Saya bertanya: "Wahai Rasulullah, apa gangguan-gangguannya itu?
Beliau bersabda: "yaitu perbuatannya yang menyakiti/merugikan(tetangga), dan kedzalimannya(aniayanya). (Seseorang) tidak (beriman) bila ia mendapatkan harta dari yang haram, lalu ia belanjakan (untuk keluarganya), maka hal itu tidak membawa berkah; dan bila ia sedekahkan, (sedekahnya) tidak akan (diterima) oleh Allah; dan jika ia tinggalkan untuk ahli warisnya, hal itu hanya menambah siksa neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapus yang buruk dengan yang buruk, tetapi menghapus yang buruk dengan yang baik dan perbuatan buruk tidak dapat menghapus keburukan (dosa)."
[HR. Ahmad no. 3490 CD)
"Sesungguhnya Allah, Tuhan Mahaperkasa lagi Mahamulia telah membagi perilaku kamu sebagaimana Dia telah membagi rizki diantara kamu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia memberikan dunia ini kepada orang yang Dia cintai dan kepada orang yang tidak Dia cintai, tetapi tidak memberikan agama, kecuali hanya kepada yang Dia cintai. Barang siapa yang diberi-Nya agama, berarti dia sungguh-sungguh dicintai-Nya. Demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, seseorang tidak menjadi islam sebelum hati dan lidahnya menjadi islam. Seseorang tidak beriman sebelum tetangganya selamat dari gangguan-gangguannya.
'Saya bertanya: "Wahai Rasulullah, apa gangguan-gangguannya itu?
Beliau bersabda: "yaitu perbuatannya yang menyakiti/merugikan(tetangga), dan kedzalimannya(aniayanya). (Seseorang) tidak (beriman) bila ia mendapatkan harta dari yang haram, lalu ia belanjakan (untuk keluarganya), maka hal itu tidak membawa berkah; dan bila ia sedekahkan, (sedekahnya) tidak akan (diterima) oleh Allah; dan jika ia tinggalkan untuk ahli warisnya, hal itu hanya menambah siksa neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapus yang buruk dengan yang buruk, tetapi menghapus yang buruk dengan yang baik dan perbuatan buruk tidak dapat menghapus keburukan (dosa)."
[HR. Ahmad no. 3490 CD)
5. Akhlak yang baik dan penuh kasih sayang
Seorang suami dan istri seharusnya bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang dengan selalu mengedepankan perilaku dan akhlak yang baik. Masing-masing harus bisa menarik dan menghindari semua ucapan yang jelek, penuh cacimaki yang melukai perasaan. Suami dan istri hendaknya mengungkapkan sisi yang indah penuh pesona dan sebisa mungkin harus bisa menutup mata pada sisi lemah pada masing-masing pasangan.
Dengan akhlak yang baik, seorang suami akan selalu menghitung kebaikan istrinya dan tidak memperhatikan kekurangannya, karena kebanyakan permasalahan rumahtangga terjadi dan muncul dari permasalahan-permasalahan yang sepele.
Bagaimanapun suami istri harus menyadari kenyataan, keadaan dan kekurangan masing-masing. Keduanya harus keluar dari imajinasi dan ideal-ideal yang semu, yang tak mungkin tercapai. Dan kehidupan yang demikian hanya bisa menjadi kenyataan bagi para ulul' azmi , dan di dunia ini hanya segelintir saja.
Dengan akhlak yang baik dan kasih sayang, serta lemah lembut antara suami-istri dengan menanamkan konsep relaksasi didalam mencari keseimbangan hubungan keluarga. Dan hal ini akan menjadi sumber kebahagiaan keluarga dalam menjalani kehidupan yang singkat ini dengan damai, sejahtera, aman dan tentram.
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia
(QS. Al-Israa: 53)
(QS. Al-Israa: 53)
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup
(QS. Maryam: 31)
(QS. Maryam: 31)
6. Membelanjakan uangnya dengan benar dan tidak boros
Keluarga yang membelanjakan hartanya pada jalan yang diridhai Allah seperti; menafkahi keluarga, membantu perjuangan fisabililah, membantu kerabatnya yang membutuhkan dan membantu orang-orang yang terlantar, maka Allah Subhanahuwata'alaa akan menjamin dengan pahala yang berlipat ganda.
Keluarga yang membelanjakan uangnya dengan benar dan tidak boros maka kehidupannya akan diliputi suasana kebahagiaan, kesejahteraan, sakinah dan penuh berkah.
Hemat dalam urusan apapun, termasuk membelanjakan harta, akan membawa kebaikan dan kebahagian. Dan keluarga yang selalu hemat dalam membelanjakan penghasilannya kemungkinan besar akan dapat menabung. Bila kemungkinan pada suatu saat ada keperluan yang mendesak, maka tabungannya tersebut dapat dapat digunakan untuk menutupi keperluannya.
Hemat dalam berbelanja akan memberikan keuntungan psikologis dan materiil pada pelakunya. Harta yang didapat dari penghematan juga dapat dimanfaatkan untuk menutupi kebutuhan pada masa-masa sempit atau untuk membantu orang yang sangat memerlukannya.
Dan lebih dari itu dengan berhemat akan membawa ketenangan dan ketenteraman serta memberikan kebahagian pada seisi rumah.
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian
(QS. Al-Furqan: 67)
(QS. Al-Furqan: 67)
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui
(QS. Albakarah: 261)
(QS. Albakarah: 261)
7. Terhindar dari himpitan hutang
Orang yang memiliki hutang dan belum dilunasi didunia, maka akan terhalang mendapatkan ampunan dari Allah diakhirat, sekalipun ia mati sahid. Dan orang yang dililit hutang biasanya akan mempunyai banyak alasan untuk berbohong kepada pemberi hutang serta biasanya juga sering tidak memenuhi janjinya.
Keluarga yang dililit hutang akan menimbulkan bencana yang besar, bukan saja bagi pemilik hutang yang akan stress, tetapi istri dan anak-anaknya pun akan terseret kedalam suasana yang kacau.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu´amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu´amalahmu itu), kecuali jika mu´amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Albakarah: 282)
Jadi keluarga yang kehidupannya dipenuhinya kebahagiaan dan berkah, hendaklah menghidarkan diri dari lilitan hutang.
وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا
Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal
(QS. Al-Israa: 29)
Baca juga Cinta dan rindu yang berlebihan
(QS. Al-Israa: 29)
Baca juga Cinta dan rindu yang berlebihan
