BINTANG SAKINAH: Utamakan Kepuasan Suami, Dan Kepuasan Suami Bukan Kepuasan Ibu

Tuesday, October 25, 2016

Utamakan Kepuasan Suami, Dan Kepuasan Suami Bukan Kepuasan Ibu




Kewajiban seorang gadis sebagai anak yang masih tinggal bersama orang tuanya ialah memuaskan mereka. Akan tetapi bila waktunya tiba untuk menikah dan menjadikan dirinya sebagai seorang istri, maka semuanya akan berubah.
Bila seorang gadis statusnya telah berubah menjadi ibu rumah tangga, maka ia harus mengutamakan kebutuhan suaminya. 

Bahkan walaupun dia mempunyai keinginan yang bertentangan dengan suami, ia harus  tetap menuruti keinginan suaminya biarpun hal itu membuat orangtuanya tidak senang. Ketidak patuhan terhadap suami dapat membahayakan ikatan pernikahan dan juga sebaliknya. Terlebih lagi banyak kaum ibu yang kurang bijaksana dalam menghadapi permasalahan rumah tangga anaknya, karena kurangnya pendidikan yang layak.

Beberap orang tua terutama adalah ibu-ibu yang anaknya sudah berumah tangga belum juga mengerti bahwa anak-anak perempuan mereka harus mencapai pengertian dengan suami-suami mereka.

Sebaiknya seorang ibu harus membiasakan diri untuk membiarkan anaknya merencanakan ueusan rumah tangganya dengan suaminya. Bila mereka mengalami kesulitan maupun kesusahan, maka biarkanlah mereka mencari solusi dan mengatasinya dengan inisiatif mereka sendiri.

Dan biasanya seorang ibu dari pihak istri biasanya tidak menyadari hal ini, mereka sering membuat menantu laki-laki mereka untuk melakukan sesuatu menurut kehendak ibu mertua. Mereka akan berusaha untuk mencampuri dan mempengaruhi urusan rumah tangga anaknya baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka menggunakan anak perempuan mereka yang masih muda dan tidak berpengalaman serta tidak menyadari situasi, supaya mempengaruhi suami mereka.

Para ibu itu akan terus menerus mengajarkan tentang apa yang harus di lakukan, apa yang harus di perbuat dan apa yang harus dikatakan serta apa yang tidak boleh di katakan kepada  anak-anak perempuan mereka. Dan seorang anak perempuan yang malang itu, yang menganggap ibunya bersimpati kepadanya dan telah berpengalaman, menurutinya dan melakukan apa yang di inginkan oleh ibunya.

Memang tidak jadi masalah bila menantu pria itu menyerah kepada keinginan mertuanya, tetapi jika ia tetap pada pendiriannya, maka percekcokan akan mulai terbentuk. Dalam masalah ini sikap seorang ibu mertua akan menjadi keras hati yang pada gilirannya akan mengakibatkan rusaknya kehidupan rumah tangga anak perempuannya. Sikap yang tidak peduli dari seorang ibu tersebut bukannya mengajarkan kepada anak perempuannya untuk mematuhi suaminya, tetapi bahkan membuatnya menentang suaminya.

Tak diragukan lagi, bila anak-anak perempuan yang selalu menurut kepada orang tua semacam itu dan menyerah kepada keinginannya akan menimpakan pukulan yang sangat berat yang tak dapat diubah lagi pada dirinya sendiri.

Maka dari itu, jika seorang perempuan benar-benar menyayangi keluarganya, maka ia tidak boleh menganggap keinginannya seratus persen benar.

Seorang wanita yang cerdas, ia akan selalu bijaksana dalam menerima saran dan perkataan ibunya dan akan selalu meneliti sebelum menerapkannya dalam kehidupan rumahtangganya. Ia boleh menerapkan saran-saran itu jika memang tidak bertentangan atau membahayakan ikatan rumah tangganya. Tetapi bila saran-saran dari orangtuanya tersebut menjurus kepada percekcokan dan perdebatan dengan suaminya, maka ia harus menolaknya.

Ada dua pilihan bagi anak perempuan

1. Menuruti keinginan-keinginan orang tuanya yang akan diikuti oleh terjadinya perdebatan-perdebatan dalam keluarga.

Itu bila ingin hidup menderita bahkan dapat bercerai dari suaminya,dalam hal ini setelah bercerai, ia mungkin akan tinggal bersama orang tuanya, tetapi bisa saja mereka tidak menganggapnya sebagai anggota keluarga lagi dan akan berusaha untuk menyingkirkannya. Ia akan terhina dan di anggap rendah olah semua anggota keluarga. Hidup sendiripun tidaklah mudah, dan menikah lagi pun bukan persoalan yang gampang. Bagaimana orang akan yakin bahwa tahap berikutnya akan lebih baik? Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana anak-anak dari suami yang baru yang akan menikahinya?
Ia bisa saja menjadi frustasi dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Atau bila ia menikah, mungkin suami yang baru akan merasa sulit hidup bersama dengannya.

2. Mempedulikan keinginan orang tuanya, dengan selalu menyesuaikan keinginan suami.

Ia dapat mengatakan kepada ibunya:

"Sekarang, karena aku sudah menikah, lebih baik aku melindungi pernikahanku, dan memberikan kepuasan kepada suamiku, aku lebih suka memperlakukannya dengan baik, karena ia adalah pasanganmu. Ia mampu membuatku bahagia dan mau mengantuk, ia berbagi suka dan duka denganku. Ia adalah pilihanku, dan bila kami mendapat kesulitan, tentu kami juga yang akan berusaha memecahkan sendiri. Kami dapat merencanakan hidup kami. Campur tangan ibu dapat membuat situasi yang sudah jelek menjadi tambah buruk. Bila ibu masih menginginkan hubungan yang baik dengan kami, maka jangan campuri kehidupan kami, jangan membicarakan kejelekan suamiku, atau aku akan memutuskan hubungan dengan ibu.

Bila ibu anda, setelah mendengar ucapan anda berhenti mencampuri urusan anda, maka anda tidak akan terganggu lagi. Tetapi bila ia tidak siap menerima teguran anda mengenai keinginan anda itu, lebih baik anda berhenti menemuinya. Dan anda bisa hidup tentram dan nyaman.

Dan mungkin sebagai akibat dari memutuskan hubungan dengan ibu anda, mungkin anda akan kehilangan sedikit kehormatan anda di kalangan keluarga, tetapi anda akan menerima jauh lebih banyak dari suami anda.

Rasulullah Shalallahu'AlaihiWassalam bersabda, yang artinya :

"Istri yang paling baik adalah yang melahirkan banyak anak, penuh kasih suci, yang tidak menyerah pada keinginan keluarganya, tetapi patuh kepada suaminya, menghias diri hanya untuk suami, dan melindungi diri dari orang-orang yang tidak di kenal, mendengarkan ucapan suami dan mematuhinya, memenuhi kebutuhan pribadinya, dan pda waktu yang sama, tidak kehilangan kesopanan dalam segala hal".

Kemudian Rasulullah Shalallahu'AlaihiWassalam 
menambahkan, yang artinya :

"Wanita yang paling jelek adalah yang memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri dan menyerah kepada keinginan suami, yang mandul dan selalu ingin membalas dendam, tidak takut melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik, menghias diri ketika suaminya tidak ada, tidak memenuhi kebutuhan pribadi suaminya, tidak mau menerima alasan-alasannya dan tidak mau memaafkan kesalahan-kesalahannya.