Bagaimanakah cara menjaga Kedamaian keluarga?
Marilah kita mulai dengan dasar-dasar dari tempat tinggal kita. Allah dengan jelas berfirman, bahwa Dia menciptakan kita hanya untuk menyembah-Nya. Dan ini melibatkan kegiatan kita sehari-hari untuk mengikuti perintah-Nya untuk selalu mengingat-Nya melaui berbagai ibadah seperti mengerjakan shalat lima waktu, disertai do'a, membaca Al-Qur'an dan sebagainya. Dalam keluarga, kita perlu memastikan agar benar-benar mengikuti semua yang diperlukan untuk memenuhi tanggungjawab, minimal kita menyembah-Nya dan membantu orang lain agar mereka juga melakukan hal yang sama.
Membina dan memelihara lingkungan keluarga dengan menumbuhkan kepada setiap anggota keluarga untuk berbagi ilmu maupun belajar tentang ajaran Islam secara teratur dapat membantu semua anggota untuk menjadi lebih luas pengetahuannya tentang Islam, meningkatkan kehidupan seseorang pada gilirannya. Mari kita mengingatkan diri kita bahwa Nabi (S) digunakan untuk mengajar nya istri / keluarga dan bahkan pegawai secara teratur. Al-Tabari (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Kita harus mengajar anak-anak dan istri-istri kita dengan agama dan kebaikan serta sopan santun yang sangat mereka butuhkan.
Sebuah pondasi rumah tangga yang di bangun berdasarkan pedoman agama islam serta dengan menganut pada ajaran Al-Qur'an dan sunah-sunah (hadits) nabi akan memberikan kekuatan pada dasar pondasi yang kokoh yang sangat diperlukan untuk kebahagiaan dan kegembiraan rumah tangga itu sendiri. Dan pada gilirannya akan memberikan kontribusi bagi kesehatan dalam bermasyarakat secara keseluruhan.
Disisi lain, sebuah rumah tangga yang anggota keluarganya bermasalah, juga akan terus berjuang untuk mempertahankan ketenangan dari sesuatu yang mungkin akan merusak dan menodai hubungan di dalam rumah tangganya. Dan pada akhir sebagai hasilnya akan terus bergulat dengan hari-hari yang penuh dengan kekacauan dan ketenangan serta jiwa yang stress.
Dan dalam kasus yang amat ekstrim mungkin akan mengakibatkan rusaknya dasar-dasar ketenangan di dalam keluarga serta dalam masyarakat pada umumnya. Oleh sebab itu seseorang yang menjadi bagian dalam sebuah keluarga wajib memiliki pedoman yang kuat agar bisa mengambil tindakan-tindakan dan yang sangat di perlukan untuk memperkuat pondasi rumah tangganya.
Agar bisa memiliki sebuah keluarga yang penuh berkah, maka kepala keluarga harus bekerja keras untuk membuat kehidupan keluarganya agar damai dan menyenangkan. Dan salah satunya adalah membuat tempat tinggal untuk bernaung anggota keluarganya.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الْأَنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ
80. Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).[ QS. An-Nahl: 80]
Dan sebuah rumah juga bisa melindungi penghuninya dari fitnah dunia luar.
Ajaran Islam berdasarkan atas dasar tuntunan Al-Qur'an dan ajaran Nabi (hadits) memberikan kita pedoman tersebut. Untuk mendapatkan manfaat dari pedoman tersebut, maka keluarga kita harus "hidup" secara Islam. Dan belum tentu seseorang yang dilahirkan dari keluarga muslim akan menjadi muslim kalau tidak diajarkan karakter lslam sejak dini.
Dan karakter Islam sendiri bisa terbentuk dari kombinasi upaya orang tua untuk mendidik anaknya, perjuangan pribadi anak tersebut dan juga dengan do'a disertai permohonan.
Perlunya untuk membawa ajaran Islam dalam keluarga kita, telah ditegaskan oleh Allah dengan memberitahu kita dalam Quran untuk melindungi diri kita dan anggota keluarga kita dari api neraka
Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. [QS.At-Tahrim: 6]
Dengan mengacu dari ayat diatas maka kita diperintahkan untuk melindungi diri kita dan keluarga kita dari api neraka, dan ini juga mengacu pada pembinaan dan bimbingan bagi keluarga didalam lingkungan kita.
"Allah akan meminta setiap gembala (atau orang yang bertanggung jawab) tentang umatnya (orang-orang untuk siapa dia bertanggung jawab), apakah ia merawat itu atau diabaikan, sampai ia meminta seorang pria tentang rumah tangganya."
Kita tahu bahwa dinding rumah memiliki sedikit dinamika untuk melakukan keyakinan dengan bangunan yang sehat dalam anggota keluarga. Yang biasanya datang dari hidup kita sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Jadi, bagaimana kita memelihara keluarga yang hidup yang baik secara Islam di dalam rumah?
Ulasan dibawah ini akan membantu mewujudkan bangunan dengan pondasi yang kuat yang pada gilirannya akan membentuk keluarga yang hidup secara islam dengan sangat menggembirakan
1. Membuat rumah sebagai tempat bagi keluarga untuk menyembah Allah
Dan mengenai pentingnya anggota keluarga melibatkan diri untuk beribadah kepada Allah di dalam rumah ini terbukti melalui Firman Allah berikut ini :
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: "Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman".[QS. Yunus: 87]
Salah satu tanda dari sebuah rumah yang dipenuhi dengan mengingat Allah adalah bahwa penghuninya selalu menghidupkan Shalat Tahajjud, Shalat Fajar, dan doa-doa lainnya tentu setelah menghidupkan Shalat wajib lima waktu. Kebiasaan ini sendiri dapat membawa perdamaian luar biasa untuk rumah tangga seseorang.
Pentingnya kebiasaan ini jelas dari hadits di mana Nabi (S) mengatakan: ". Perumpamaan sebuah rumah di mana Allah diingat dan rumah di mana Allah tidak ingat adalah bahwa dari hidup dan yang mati, masing-masing"
berkenaan dengan laki-laki, Nabi (S) mengatakan: "doa yang terbaik adalah doa seorang pria di rumahnya - terlepas dari resep doa (yang harus berada dalam masjid)." (HR al-Bukhari, al-Fath . 731).
Berkenaan dengan perempuan, Nabi (S) mengatakan: "Doa yang terbaik bagi perempuan adalah [yang ditawarkan] di (terdalam) bagian terjauh dari rumah-rumah mereka." (HR al-Tabraani. Shahih al-Jaami ' , 3311) .
Sebuah rumah yang penuh dengan mengingat Allah Tuhan alam semesta tidak diragukan lagi akan menemukan aura kedamaian dan ketenangan di tengah-tengahnya.
Allah telah mmemberi tahu kepada kita melalui Kitab suci Al-Qur'an, bahwa setan adalah musuh kita dan kita harus senantiasa melakukan segalanya untuk menjaga agar setan keluar dari kehidupan kita. Setan akan selalu berusaha menyakiti manusia dengan menyesatkannya ke arah perbuatan jahat, membuat kemungkaran agar selalu di terima manusia, dan lebih-lebih lagi setan akan terus membawa kemalangan dalam kehidupan keluarga kita, dan lain sebagainya.
Semakin kita banyak berhasil menjaga taktik setan dengan kutukan dalam kehidupan keluarga kita, maka akan semakin sedikit permasalahan yang timbul dan semakin minim perkelahian, adu argumen serta kesalahpahaman yang selalu menggangu ketentraman hidup keluarga kita. Dan kita juga akan lebih menikmati kedamaian hidup dengan penuh rahmat yang diberikan Allah Subhanahuwataalaa.
Allah dan Rasul-Nya telah memberitahukan kepada kita bagaimana cara untuk menangkal bisikan setan dan taktik jahat lainnya. Misalnya saja ketika kita memasuki sebuah rumah, maka kita harus memastikan bahwa semua orang yang didalam rumah agar menyambut orang lain yang berkunjung dengan mengucapkan salam.
Seperti Muslim dilaporkan dalam Shahih-nya bahwa Rasulullah (S) mengatakan: "Ketika salah satu dari Anda memasuki rumahnya dan menyebutkan nama Allah ketika ia masuk dan saat ia makan, yang setan mengatakan (tentang dirinya):" Anda tidak memiliki tempat tinggal dan tidak ada untuk makan di sini. " Jika ia masuk dan tidak menyebutkan nama Allah ketika ia masuk, [yang setan] mengatakan (kepada dirinya sendiri), 'Anda memiliki tempat tinggal. " Jika ia tidak menyebut nama Allah ketika dia makan, [yang Shaytaan mengatakan], 'Anda memiliki tempat tinggal dan makan.' " (HR Imam Ahmad, al-Musnad, 3/346; Muslim, 3 / 1599).
Abu Dawud dilaporkan dalam Sunah, bahwa Rasulullah (S) mengatakan: "Jika seorang pria keluar dari rumahnya dan mengatakan,
'Bismillaah, tawakkaltu' ala Allah, laa Hawla wa laa quwwata illaa Billaah (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada bantuan dan tidak ada kekuatan kecuali Allah), 'itu akan berkata kepadanya,' ini akan mengurus Anda, Anda akan dipandu, Anda memiliki apa yang Anda butuhkan dan Anda dilindungi. " "maka setan akan menjauh dari dia, dan setan yang lain akan mengatakan kepadanya, 'Apa yang dapat Anda lakukan dengan seorang pria yang dipandu, disediakan untuk dan dilindungi?' " (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi. Shahih al-Jaami ' , tidak ada. 499)
Taktik lain untuk menjaga Setan jauh dari rumah untuk anggota keluarga untuk membacakan Surah Al-Baqarah secara teratur. Walaupun seperti surah ini lumayan panjsng, tetapi anggota keluarga bisa bergantian dalam pembacaan Surah ini.
Rasulullah (S) mengatakan: " Jangan membuat rumah Anda menjadi kuburan. The setan melarikan diri dari sebuah rumah di mana Soorat al-Baqarah dibacakan. " (HR Muslim, 1/539).Dia (S) juga mengatakan: "Allah menulis dokumen dua ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi, yang disimpan di dekat Arsy, dan dan beliau mengungkapkan dengan kesimpulan dua ayat tersebut, bahwa jika surat Al-Baqarah dibaca kan tiga malam berturut turut dalam sebuah, setan tidak akan mendekati rumah tersebut. " (HR Imam Ahmad dalam al-Musnad , 4/274, dan lain-lain. Shahih al-Jaami ' , 1799).
Aisyah (ra dengan dia) berkata: "Rasulullah (S) mengatakan: '. Ketika Allah - mungkin Dia dimuliakan - menghendaki beberapa baik terhadap orang-orang dari rumah tangga, Dia memperkenalkan kebaikan di antara mereka' " (HR Imam Ahmad dalam al-Musnad , 6/71; Shahih al-Jaami ' , 303).
Setiap individu memiliki identitas yang unik dan individualitas yang pantas untuk dihormati. Memberikan waktu untuk mendengarkan satu sama lain dan membantu memecahkan masalah dalam cahaya Islam akan membuat rumah tangga yang lebih kondusif bagi pemecahan masalah yang produktif. Sebaliknya, rumah yang didalamnya sering terjadi adu argumen yang pada akhirnya menimbulkan pertengkaran dan perselisihan akan menumbuhkan perasaan yang buruk pada setiap anggota keluarganya dan merupakan sesuatu yang sangat bertentangan dengan apa yang dianjurkan dan di ajarkan Al-Qur'an dan hadits.
Mari kita ingat bahwa Nabi (S) terkait sikap argumentatif dan berselisih dengan kesesatan. Ia mengatakan, "Sebuah bangsa tidak pernah sesat setelah dibimbing kecuali dengan cara perdebatan (Tirmidzi # 3253 dan ibn Majah # 48 pada otoritas Abu Umamah)." Dalam konteks ini, kita juga harus berolahraga penggunaan lidah kita dengan besar peduli. Nabi (S) mengatakan: "Diberkatilah orang yang mengendalikan lidahnya.."
Anggota keluarga juga harus menjunjung tinggi kepercayaan masing-masing dan memastikan bahwa masalah keluarga adalah masalah yang tinggal pada pribadi masing-masing, kecuali ada kebutuhan khusus untuk berbagi dengan orang lain. Ini terutama berkaitan dengan masalah suami-istri dan hal-hal.
Nabi (S) mengatakan , "Salah satu yang paling jahat dari orang-orang di sisi Allah pada hari kiamat akan menjadi orang yang pergi kepada istrinya dan dia pergi di kepadanya (memiliki hubungan satu sama lain), maka dia (atau dia) diungkapkan nya (atau nya) rahasia. " (HR Muslim, 4/157).
Ada hadits lain yang jelas dan ketat memperingatkan pasangan (menyerupakan mereka untuk setan) ketika mereka membiarkan orang lain dalam hal-hal yang sangat pribadi mereka.
4. Menumbuhkan budaya belajar dan pengetahuan Islam
Membina dan memelihara lingkungan keluarga dengan menumbuhkan kepada setiap anggota keluarga untuk berbagi ilmu maupun belajar tentang ajaran Islam secara teratur dapat membantu semua anggota untuk menjadi lebih luas pengetahuannya tentang Islam, meningkatkan kehidupan seseorang pada gilirannya. Mari kita mengingatkan diri kita bahwa Nabi (S) digunakan untuk mengajar nya istri / keluarga dan bahkan pegawai secara teratur. Al-Tabari (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Kita harus mengajar anak-anak dan istri-istri kita dengan agama dan kebaikan serta sopan santun yang sangat mereka butuhkan.
Apa yang Anda pikirkan tentang anak-anak Anda dan istri, yang bebas? "
Membahas kebijaksanaan Islam secara teratur dapat membantu kita untuk tetap memperoleh informasi dan terlibat dalam self assessment yang sedang berlangsung. Sebagian besar dari kita biasanya disibukkan dengan isu-isu yang berkaitan dengan tanggung jawab kita, pekerjaan, hubungan dan kekecewaan dalam hidup. Ketika mendiskusikan hal ini dengan anggota keluarga kita,
Dan kita dapat menghubungkannya dengan bagaimana Nabi (S) dan teman-temannya memutuskan hal tersebut. Kita harus menemukan peluang untuk membahas isu-isu seperti ketika semua orang datang bersama-sama seperti contoh ketika waktu makan.
Anggota keluarga juga harus menggunakan kesempatan belajar di rumah untuk belajar dan menyarankan yang satu sama yang lain tentang hal dan sesuatu yang halal dan haram. Hal ini dapat membantu kita menangkal berbisik Satanic terkait dengan membuat haram muncul sebagai diterima.
Mari kita mengingatkan diri kita bahwa setelah kita menyeberangi garis dan mulai menggunakan karakteristik yang buruk mulai diterima, Setan selanjutnya akan terus menimbulkan batas-batas tersebut dan tidak berhenti sampai ia benar-benar mendorong kita ke dalam kegelapan dan kejahatan serta syirik.
Cara lain untuk menciptakan lingkungan belajar di rumah untuk setiap keluarga untuk menanamkan cinta literatur Islam dengan buku yang berhubungan dengan Islam. Jadi, di luar menjaga Quran dan sebuah buku tentang hadis, keluarga harus melihat untuk mempertahankan literatur tentang Quran interpretasi dan buku dari para ulama-ulama Islam yang terkenal yang dapat membantu anggota keluarga mendapatkan wawasan yang lebih dalam kebijaksanaan Quran dan Sunnah.
Melibatkan keluarga dalam hal-hal penting sebelum membuat keputusan memastikan kedekatan antar anggota. Allah berfirman dalam Al-Quran :
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.[QS.Asy-Syuuraa: 38]
Musyawarah memungkinkan untuk setiap anggota memiliki rasa kepentingan dan tanggung jawab. Selain itu, ketika mencoba untuk memecahkan masalah, semakin banyak otak yang terlibat, semakin baik peluang untuk solusi. Masalah dapat diatasi dengan satu-satu percakapan antara orang tua dan anak-anak, dan anggota keluarga lainnya. Daripada melampiaskan frustrasi dan fokus pada masalah, anggota keluarga harus menemukan cara untuk terlibat dalam percakapan di mana solusi yang dicari dengan cara damai.
Melampiaskan kemarahan, rasa frustasi dan saling menyalahkan dengan nada yang keras serta merendahkan satu sama lain tidak hanya tidak memecahkan masalah, tetapi juga sours hubungan dan menutup semua pintu untuk konsultasi masa depan dan kepercayaan.
Mari kita ingat hadits nabi di mana ia membandingkan kekerasan dengan perilaku yang baik. Dia (s) mengatakan,"Allah mencintai kebaikan dan penghargaan itu sedemikian rupa bahwa Dia tidak menghargai untuk kekerasan atau untuk hal lain."(HR Muslim, kitaab al-Birr wa-Sillah wa-Aadaab, tidak ada. 2592).
Hidup dengan anggota keluarga lain juga mengharuskan bahwa kita masing-masing belajar hak orang lain. Sebagai Muslim yang baik, kita harus mengetahui hak-hak orang tua, anak-anak, pasangan, saudara, sahabat, tetangga dan lainya. Dalam hal ini Allah Subhanahuwataalaa telah memberikan kita petunjuk yang jelas tentang berbuat baik kepada orang tua, Allah berfirman :
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.[QS. Al-Israa: 23]
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".[QS. Al-Israa: 24]
Seperti yang kita lihat, bahwa Al-Qur'an dengan jelas memerintahkan kita berkaitan dengan tugas-tugas kita kepada orang tua kita. Dengan memenuhi tanggung jawab kita terhadap mereka, kita juga dapat berfungsi sebagai contoh yang baik untuk anak-anak kita dalam praktek kesabaran dan kebaikan. Demikian pula, kita harus belajar tanggung jawab dalam menangani anak-anak kita. Ketika orang tua mengenali anak sebagai individu, alamat dia dan termasuk dia / dia dalam diskusi pada topik umum, hubungan yang tepat terbentuk dan anak merasa lebih mudah untuk mematuhinya. Pengingat dapat diberikan dan situasi yang orang tua sendiri berada di bisa dibahas untuk saling membantu mendapatkan dan tetap di jalur Islam. Ketika orang tua membuat kesalahan dengan menganggap diri sempurna (dan ketidaksempurnaan mereka cukup jelas!) Mereka kehilangan kredibilitas mereka sendiri dan rasa hormat dari anak-anak mereka juga.
Hal ini berlaku untuk anggota keluarga lain juga. Agar mereka juga mengetahui kewajiban dan hak-hak serta tanggungjawab sebagai individu dalam keluarga sehingga dapat membantu kita memenuhi tanggungjawab menurut resep islam dan mengajarkan keluarga kita hidup secara islami.
Kesimpulan
Al-Qur'an dan hadits memberikan kita pedoman yang cukup tentang berbagai aspek hidup Islam dalam keluarga dan satu artikel tidak cukup untuk menutupi topik di atas secara rinci. Contohnya termasuk ayat-ayat QS. Al-Mu'minuun(23): 1-11, Surah Luqmaan (31: 13-19) dan lain-lain.
Ketika para orang tua dan pihak yang bertanggung jawab dari sebuah rumah tangga menyoroti pentingnya untuk hidup Islam dalam sebuah keluarga, dan praktek kebajikan ini serta sopan santun, ini mengilhami anak-anak untuk belajar juga.
Akhirnya, mari kita mengingatkan diri kita bahwa untuk h8anya menjadi pengetahuan tentang isu-isu ini tidak membantu kecuali kita hidup dan mempraktekkannya enam KUNCI diatas.
Salah satu ulama Islam menyatakan bahwa jika pemimpin (Iman) itu, hanya mengetahui fakta-fakta di dalam hati seseorang, maka dirinya mirip dengan kelakuan Setan.
karena setan sangat berpengetahuan tentang Tuhannya (Allah) namun karena kesombongan dan kebanggaannya yang telah membawanya menjadi argumentatif dan tidak taat kepada Allah, dan dalam proses menjadi yang terburuk dari makhluk.
karena setan sangat berpengetahuan tentang Tuhannya (Allah) namun karena kesombongan dan kebanggaannya yang telah membawanya menjadi argumentatif dan tidak taat kepada Allah, dan dalam proses menjadi yang terburuk dari makhluk.






