Allah Subhanahuwata'ala berfirman, yang artinya:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24).
Berbuat baiklah kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya seperti; berbakti, mengasihi dan lemah lembut kepadanya. Janganlah berkata kasar apalagi dengan membentak mereka disaat keduanya memasuki masa tua mereka.
Seharusnya kita berkhidmat kepada keduanya sebagaimana mereka telah mengurus kita. Bagaimanapun juga mereka tetap yang lebih baik, karena keduanya telah menderita karena kita, demi mengharapkan kehidupan kita. Maka muliakanlah keduanya, paling tidak ketika kita berbicara kepada mereka dengan berbicara lemah dan lembut.
Tetapi, mungkin masih banyak diantara kita yang karena emosi terkadang berani membentak orangtua kita sendiri, entah itu disengaja atau tidak disengaja.
Perhatikanlah kisah berikut ini, dimana seorang anak yang begitu manja dan setiap keinginannya selalu dituruti oleh ibunya.
"IBU, masakin air bu. Aku mau mandi pakai air hangat," seorang anak meminta ibunya menyiapkan air hangat untuk mandinya.
Sang ibu dengan ikhlas melaksanakan apa yang diperintah oleh sang anak.
Dengan suara lembut ibunya menyahut, "Iya, tunggu sebentar ya, sayang!”
"Jangan terlalu lama ya Bu! Soalnya saya ada janji sama teman," ujar sang anak.
Tidak lama kemudian sang ibu telah usai menyiapkan air hangat untuk buah hatinya.
"Nak, air hangatnya sudah siap," ibu itu memberi tahu.
"Lama sekali sih, Bu…" sang anak sedikit membentak.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, sang anak berpamitan kepada ibunya,
.
"Bu, saya keluar dulu ya, mau jalan-jalan sama teman."
.
"Bu, saya keluar dulu ya, mau jalan-jalan sama teman."
"Mau kemana nak?" tanya sang ibu.
"Kan sudah aku bilang, saya mau keluar jalan-jalan sama teman,” kata sang anak sambil mengerutkan dahi.
Malam harinya, sang anak pulang dari jalan-jalan, sesampainya di rumah ia merasa kesal karena tidak menjumpai ibunya didalam rumah. Padahal perutnya sangat lapar, di meja makan tidak ada makanan apa pun.
Beberapa saat kemudian, ibunya datang sambil mengucapkan salam,
"Assalamu’alaikum... Nak, kamu sudah pulang? Sudah dari tadi?" dengan suara halus ibunya menyapa kepada anaknya.
"Hah, ibu dari mana saja. Saya ini lapar, mau makan tidak ada makanan di meja makan. Seharusnya kalau ibu mau keluar itu masak dulu…" kata si anak dengan suara sangat lantang.
Sang ibu mencoba menjelaskan sambil memegang tangan anaknya,
"Begini sayang, kamu jangan marah dulu. Ibu tadi keluar bukan untuk urusan yang tidak penting, kamu belum tahukan kalau istrinya Pak Rahman meninggal?"
"Meninggal? Padahal tidak sakit apa- apa kan, Bu?" sang anak sedikit kaget, nada suaranya juga tidak tinggi lagi.
"Dia meninggal waktu Maghrib tadi. Dia meninggal saat melahirkan anaknya. Kamu juga harus tahu nak, seorang ibu itu bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya," ibu memberikan penjelasan.
Hati sang anak mulai terketuk, dengan suara lirih ia bertanya pada ibunya,
"Itu artinya, ibu saat melahirkanku juga begitu? Ibu juga merasakan sakit yang luar biasa juga?"
"Iya anakku.
"Saat itu ibu harus berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa.
Namun, ada yang lebih sakit daripada sekadar melahirkanmu, nak," sang ibu menjawab.
"Saat itu ibu harus berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa.
Namun, ada yang lebih sakit daripada sekadar melahirkanmu, nak," sang ibu menjawab.
"Apa itu, Bu?" sang anak ingin mengerti apa yang melebihi rasa sakit ibunya saat melahirkan dia.
Sang ibu tak mampu menahan air mata yang mengalir dari setiap sudut matanya seraya berkata,
"Rasa sakit saat ibu melahirkanmu itu tak seberapa, bila dibandingkan dengan rasa sakit yang ibu rasakan saat dirimu membentak ibu dengan suara lantang, saat kau menyakiti hati ibu, Nak."
Si anak langsung menangis dan memohon ampun atas apa yang telah diperbuat selama ini pada ibunya.
Masih beranikah kita membentak ibu kita yang telah mempertaruhkan hidup matinya ketika melahirkan diri kita,,?
Semoga bermanfaat untuk kita semua agar lebih bijak dalam mengontrol emosi yang berlebihan ketika harus berselisih dengan orang tua,
dan tolong bagikan kisah ini kepada Anak-anak kita, Keponakan-keponakan kita, dan kepada Cucu-cucu kita.
