Banyak orang yang menyangka bahwa setelah pernikahan hidupnya akan semakin indah, tetapi ternyata lebih dari itu,
justru membahagiakan dan terasa sangat Indah ...sekali, itu kalau dilihat dari sisi kasih sayang dan cinta yang terpendam yang pada akhirnya tercapai apa yang diinginkannya.
Maka tidak sedikit yang justru merasa menyesal setelah mengalaminya kenapa tak dari dulu menikah.
" tau begini enaknya udah dari dulu menikah"
Ungkapan-ungkapan semacam itu sering dilontarkan kepada yang masih hidup sendiri dan lazim terdengar candaan tentang pernikahan.
Tetapi bagaimana dengan berbagai masalah yang selalu bermunculan, yang membuat tak sedikit pasangan suami istri harus berpisah?
Namun yang jelas, tak segampang yang dibayangkan dan tak semudah mempraktekkan apa yang telah dipikirkannya. Untuk membangun dan membina sebuah keluarga yangsakinah adalah memerlukan suatu proses.
Keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang diam terlihat sejahtera tanpa masalah. Namun lebih kepada adanya keterampilan dalam menjalankan manajemen konflik dari perpaduan suami istri untuk menahan agar perselisihan yang kerap terjadi tidak berkembang menjadi masalah serta polemik untuk diperdebatkan.
Ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga, yaitu;
- pencegahan terjadinya perselisihan,
- menghadapi tatkala perselisihan terlanjur berlangsung,
- dan apa yang harus dilakukan setelah perselisihan reda,
Pembaca yang budiman,
Marilah kita bersama-sama menguraikan bagaimana meminimalkan terjadinya perselisihan di dalam rumah tangga kita, sehingga tidak menjadi berkembang yang bisa menjadi BOM WAKTU yang siap meledak dan menghancurkan kehidupan rumah tangga.
1. Harus siap dengan sesuatu yang tak pernah kita pikirkan
Pada dasarnya kita selalu siap untuk mendapatkan apa yang kita inginkan sesuai harapan, dan menjadikan kita mudah memikirkan sesuatu yang telah kita siapkan.
Namun, bagaimanapun juga bahwa setiap orang itu pasti berbeda-beda cara dalam menjalani kehidupan rumahtangganya. Tidak semuanya harus sama "gelombangnya" dengan kita. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan diri agar potensi konflik akibat perbedaan ini tidak merusak.
Dalam rumah tangga, bisa jadi pasangan kita yang ketika belum nikah begitu ideal, setelah menikah ternyata tidak sesuai dengan yang kita impikan. Maka kita harus siap melihat kedepannya, karena ternyata dia tidak rapi, hatinya tidak secantik yang dibayangkan atau tidak segesit yang kita harapkan.,
Itu misalnya,,,
Kita harus berlapang dada sekali andai ternyata apa yang kita idamkan, kita harapkan, kita impikan sebelum pernikahan yang begitu terlihat kasih sayangnya, justru setelah pernikahan malah seolah-olah hilang dan tidak ada pada dirinya.
Juga sebaliknya, apabila yang luar biasa kita benci. Ternyata isteri atau suami kita ternyata setelah menikah keluar watak aslinya dan benar-benar memiliki sikap tersebut.
2. Siap dengan masalah yang tak pernah mengalami sebelumnya
Tindak lanjut dan kesiapan kita menghadapi perbedaan dan perselisihan yang ada, adalah memeperbanyak pesan aku. Sebab, umumnya makin orang lain mengetahui kita luar dalam, maka seharusnya makin siap dia menghadapi kita.
Misalnya sebagai isteri kita terbiasa katakanlah mengorok ketika tidur, maka agar suami dapat siap menghadapi hal ini, kita bisa mengatakan;
"Mas, orang bilang, kalau tidur saya itu suka ngorok,.... jadi Mas siap-siap saja. Sebab, sebetulnya, saya sendiri enggak niat ngorok."
Lalu sebagai suami, misalnya kita menyatakan keinginan kita:
"Saya kalau jam tiga suka bangun. Tolonglah bangunkan saya. Saya suka menyesal kalau tidak Tahajjud. Dan kalau sedang Tahajjud, saya tidak ingin ada suara yang mengganggu."
Dengan demikian, diharapkan tidak terjadi riak-riak masalah yang bisa membesar akibat satu sama lain tidak memahami nilai-nilai yang dipakai oleh pasangan hidupnya.
Sebab sangat mungkin orang membuat kesalahan akibat dia tidak tahu tata nilai kita. Yang dampaknya akan banyak muncul ketersinggungan-ketersinggungan. Maka di sinilah perlunya kita belajar memberitahukan. Memberitahukan apa yag kita inginkan. Inilah esensi dari pesan aku.
Dengan demikian ini akan membuat peluang perselisihan tidak membesar. Karena kita telah mengkondisikan agar orang memahami kita. Sungguh tidak usah malu menyatakan harapan ataupun keberatan-keberatan kita.
Sebab justru dengan keterbukaan seperti ini pasangan hidup kita dapat lebih mudah dalam menerima diri kita. Termasuk dalam hal keberadaan orang lain.
Misalnya orang tua kita akan datang. Maka adalah suatu tindakan bijaksana apabila kita mengatakan kepada suami tentang mereka. Sebagai contoh, orang tua kita mempunyai sikap cukup cerewet, senang mengomentari ini itu.
Maka katakan saja:
"Pak... saya tidak bermaksud meremehkan. Namun begitulah adanya. Orang tua saya banyak bicara. Jangan terlalu difikirkan, itu memang sudah kebiasaan mereka. Juga dalam hal makanan, yang ikhlas saja ya Pak...kalau nanti mereka makannya pada lumayan banyak..."
Sungguh sahabat, makin kita jujur maka akan semakin menentramkan perasaan masing-masing di antara kita.
Alkisah, ada sebuah keluarga yang rumah tangganya sering sekali terjadi pertengkaran.
Akhirnya, suatu ketika si isteri bicara "Pak, maaf ya, keluarga kami memang bertabiat keras. Sehingga bagi kami kemarahan itu menjadi hal yang amat biasa."
Lalu suaminya membalas "Sedangkan Papa lahir dari keluarga pendiam, dan jarang sekali ada pertempuran..."
Jelas itu akan membuat keadaan berangsur lebih baik dibanding terus menerus bergelut dalam pertengkaran-pertengkaran yang semestinya tak terjadi.
Jadi kita pun harus berani untuk mengumpulkan input-input tentang pasangan kita. Misalnya ternyata dia punya BB atau bau badan.
Maka kita bisa menyarankan untuk meminum jamu, sekaligus memberitahukan bahwa kadar ketahanan kita terhadap bau-bauan rendah sekali.
Sehingga ketika kita tiba-tiba memalingkan muka dari dia, isteri kita itu tidak tersinggung. Karena tata nilainya sudah disamakan.
Tentunya, dengan saling keterbukaan seperti itu masalah akan menjadi lebih mudah dijernihkan dibanding masing-masing saling menutup diri.
Ketertutupan, pada akhirnya akan membuat potensi masalah menjadi besar. Kita menjadi mengarang kesana kemari, membayangkan hal yang tidak tidak berkenaan dengan pasanagan hidup kita.
Dongkol, marah, benci dan seterusnya. Padahal kalau saja didiskusikan, bisa jadi masalahnya menjadi sangat mudah diselesaikan. Dan potensi konflik pun menjadi minimal.
3. Siap dengan aturan baru
Kita harus memiliki aturan-aturan yang disepakati bersama. Karena kalau tak tahu aturan, bagaimana orang bisa nurut? Bagaimana kita bisa selaras? Jadi kita harus membuat aturan sekaligus...sosialisasikan!
Misalnya dalam urusan memasak keseharian, bila biasanya kita selalu menikmati lezatnya masakan ibu kita, tetapi pasti berbeda dengan masakan istri, yang sedikit banyak pasti tidak sesuai dengan keinginan lidah kita yang sudah terbiasa dimanjakan oleh masakan-masakan yang sudah bertahun-tahun membekas dalam indra perasa dalam lidah.
Maka kita harus menghormati setiap usaha istri kita yang sudah rela dengan penuh keikhlasan untuk bisa memberi yang terbaik melalui masakannya.
Terus dalam urusan air, isteri kita mungkin jarang mematikan kran setelah mengguanakan. Bisa jadi kita dongkol. Disisi lain, boleh jadi isteri malah tak merasa bersalah sama sekali. Sebab dia berasal dari desa. Dan di desa, pancuran toh tak pernah ditutup.
Begitu pula pada anak-anak. Kita harus mensosialisasikan peraturan ini. Tidak usah kaku. Buat saja apa yang bisa dilaksanakan oleh semua. Makin orang tahu peraturan, maka peluang berbuat salah makin minimal.
4. Siap dengan tekanan akibat ekonomi yang kurang
Permasalahan yang kerap terjadi dalam rumah tangga salah satunya akibat faktor ekonomi, karena terlalu mengutamakan hawa nafsu memiliki yang sebenarnya tidak begitu penting.
Banyak sekali karena faktor ekonomi terjadi perselisihan antar pasangan yang berujung perpisahan, karena dari awal perkenalan hanya merencanakan dan membicarakan kebahagiaan semata dan tidak berpikir untuk bagaimana menghadapi masa-masa sulit.
Karena pada mulanya banyak laki-laki yang selalu menjanjikan akan memenuhi kebutuhan pasangannya jika menikah nanti. Sehingga setelah menjadi pasangan suami istri karena tidak siap dengan tekanan ekonomi maka timbul perselisihan.
Maka sebaiknya untuk meminimalkan perselisihan maka setiap pasangan harus benar-benar mau menerima apa adanya dan tetap setia pada waktu masa sulit sekalipun.
Pembaca yang berbahagia, lantas bagaimana dengan pernikahan yang diharapkan mampu mendatangkan kebahagiaan?
Sebenarnya kebahagiaan terletak pada keikhlasan dalam menikmati kehidupan bersama pasangan dimana pun, kapanpun dan dalam keadaan apapun dengan selalu bersyukur dengan apa yang masih kita punya.
Karena kebahagiaan selalu berdampingan dengan kesusahan..
Kekayaan selalu berdampingan dengan kefakiran..
Kekayaan selalu berdampingan dengan kefakiran..
Tetapi keikhlasan akan berbuah kenikmatan
Semoga bermanfaat...
