Siapa yang tidak kenal tantang cerita tentang pewayangan di mana tergila-gilanya Rahwana dalam mencintai Dewi Shinta yang sejatinya adalah istri sah Sri Rama.
Karena besar rasa cintanya kepada Dewi Shinta, maka sampai akhirnya Rahwana harus berbuat tidak terpuji dengan menculik dewi Shinta.
Bagaimana urusan cinta yang sebenarnya yang dapat kita pahami dalam cerita pewayangan tersebut?
Cinta seperti apakah yang dirasakan Rahwana, sampai harus menculik orang yang dipuja dan sangat dicintainya itu?
Telah kita ketahui bahwa Rahwana adalah seorang penjahat, yang sudah jelas menjadi tokoh yang sangat dibenci. Sedangkan Rama adalah Seorang pahlawan yang tentunya menjadi tokoh yang disukai. Sedangkan Dewi Shinta merupakan seorang Putri Yang Sangat Cantik Istri dari Sri Rama. Dan mengenai pemahaman seperti ini sudah sangat meluas dimengerti dalam masyarakat kita.
Lantas bagaimana sebenarnya cerita dari cinta yang begitu besar dalam diri seorang Rahwana dan belum banyak orang tahu, tersembunyi dibalik penculikan Dewi Shinta. Dalam urusan cinta dalam diri seseorang, walau dia adalah penjahat sekalipun maka pemahaman ini bisa saja diperdebatkan, karena semua orang memiliki hak untuk mencintai seseorang yang memang menjadi idaman hatinya.
Seandainya kita bisa belajar cinta dari Rahwana kepada Dewi Shinta, maka kita akan mengetahui Cinta tanpa syarat dan yang sesungguhnya dan tanpa pernah menuntut maupun harus disisipi dengan kata tapi.
Saya percaya bahwa manusia itu punya dua sisi yaitu baik dan buruk (tidak ada yang sepenuhnya hitam, tidak ada yang sepenuhnya putih), Termasuk dari seorang Rahwana yang sudah terlanjur di cap sebagai penjahat.
Mari kita mencoba melihat dari sisi Rahwana sebagai pribadi yang jatuh cinta bagitu suci dan penuh kesetiaan yang sesungguhnya kepada seorang Dewi Shinta.
Dalam sebuah kisah yang telah lampau diceritakan bahwa Rahwana hanya mencintai satu wanita, yaitu istrinya yang bernama Dewi Setyawati. Begitu setianya kepada istrinya sampai kemudian sang dewi meninggal, dan pada akhirnya menitis kepada dewi Sinta.
Cinta di hati Rahwana kepada istrinya tak pernah padam walaupun sang istri sudah meninggal, hingga akhirnya sang waktu mempertemukannya dengan seseorang yang merupakan titisan dari istrinya yaitu Dewi Sinta, tetapi sayangnya sudah menjadi istri Rama, raja Ayodya, karena memenangi sayembara.
Melihat cinta sejatinya sudah menjadi milik orang lain, maka Rahwana hanya mempunya dua pilihan, yaitu:
1. merelakan orang yang sangat dicintainya menjadi milik orang
2. merebutnya dengan taruhan apa pun, bahkan nyawa.
Dan, Rahwana memilih pilihan kedua.
Sinta pun diculiknya dan dibawa pulang ke Alengka. Tetapi walaupun selama tiga tahun disekap, Sinta diperlakukan bak ratu oleh Rahwana. Seandainya kalau saja dia mau menuruti untuk melakukan kekerasan, bisa saja ia memaksa atau bahkan memperkosa Sinta, tetapi nyatanya Rahwana tak pernah mau melakukannya.
Rahwana tahu, cinta sejati tidak butuh pemaksaan ataupun kekerasan, tetapi dia rela bersabar demi menanti sang pujaan hati mau menjadi pendampingnya. Diapun tak pernah menyentuhnya apalagi berbuat asusila.
Dia rela menunggu, karena menunggu adalah hal terbaik agar sang dewi tak terluka hatinya.
Agar sang dewi mencintainya sepenuh hati. Suatu saat nanti, karena itu adalah impian dan harapan yang mungkin bisa terwujud... Walaupun itu entah sampai kapan..
Padahal dia tahu benar bahwa titisan Dewi Setyawati itu terlahir begitu setia kepada Sri Rama suaminya.
Setiap hari Rahwana mendatangi Sinta dengan beragam puisi, berbagai perhatian dan perlakuan yang sangat baik.
Dia selalu minta maaf ketika keinginan bertemu wanita yang dicintainya, karena telah menculiknya.
Semua itu dia lakukan semata-mata hanya agar sinta bersedia menjadi permaisuri, satu-satunya istri terkasih. Namun....Sinta selalu menolak dengan alasan yang sama bahwa dia sudah menjadi istri orang lain.
Dan sesuatu apapun yang datang dari ketulusan hati, pasti akan sampai juga ke hati. Dan sekejam apa pun kelakuan Rahwana terhadap musuh-musuhnya, tetapi jika sudah berhubungan dengan cinta, maka akan dilakukan dengan penuh ketulusan dan kesetiaan. Dan itu pula yang sebenarnya secara pelan-pelan mulai dirasakan oleh Sinta.
Selama dirinya di Alengka, Rahwana berubah menjadi baik dan murah senyum sehingga mengubah suasana kerajaan menjadi baik pula dan penuh kedamaian.
Sintapun sebenarnya mulai tergoda karena telah merasakan kebaikan dan perhatian serta cinta yang tulus ikhlas dari seorang Rahwana kepada dirinya, tetapi di sisi lain dia tak mau mengkhianati suaminya.
Namun, hingga hampir tiga tahun lamanya, kenapa Rama tak kunjung juga menyelamatkannya?
Apakah suaminya sudah tak mencintainya lagi? Itulah pertanyaan yang terkadang terbesit dalam hatinya.
Dalam diam mereka saling bicara.
"Tidakkah kau juga mencintaiku Sinta? Tidakkah kau mengingatku walau sedikit saja, sebagai pria yg pernah kau cintai sampai mati"
"Aku sebenarnya juga mencintaimu. Namun aku terikat dengan Rama.. Jika kamu mencintaiku, tolong relakanlah aku dan kembalikanlah aku.."
Kata-kata Sinta ibarat mantra yang menyihir Rahwana. Sebab, selama hidupnya, hanya kata-kata itulah yang dinanti.
"Jika itu maumu, sebagai ksatria, aku akan berduel satu lawan satu dengan Rama.
Jika dia bisa mengalahkanku, maka aku akan mengembalikanmu kepadanya"
Ketika Rama datang dengan balatentara wanara plus hanoman, dengan gagah berani Rahwana menyambutnya.
“Aku mencintai Sinta, Rama! Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena berhasil memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut ‘mengacau’ sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan cintaku kembali"
Pertarungan pun terjadilah.
Dengan dibantu Hanoman, Rama berhasil mengalahkan Rahwana dan membunuhnya. Sinta pun kembali jadi miliknya.
Dia lari menghambur ke pelukan Rama.
Dia lari menghambur ke pelukan Rama.
Namun, sambutan Rama justru tak dia duga.. Rama curiga, jangan-jangan Sinta telah dinodai Rahwana.
Berkali-kali Sinta menjelaskan bahwa dirinya masih suci.
Rahwana tidak sekali pun pernah menyentuhnya. Tapi Rama tak juga percaya. Hingga akhirnya, Sinta nekat membuktikan kesuciannya dengan menceburkan diri ke bara api.
Karena dia masih suci, api tak bisa membunuhnya. Barulah setelah itu Rama mau menerimanya kembali.
Tinggal kemudian sukma Rahwana yang menangis sejadinya karena nestapa cinta. Kenapa takdir tidak memilihnya? Andai dia ikut perlombaan pasti Sinta menjadi miliknya, bukankah kesaktian Rama masih jauh di bawahnya.
Kenapa pula Sinta memilih pria yang tidak mempercayainya 100 persen? Sementara bagi Rahwana, Sinta ternoda atau tidak, cantik atau tidak dia tetap akan mencintainya.
Disudut lain yang tak terlihat.. Sinta tersedu pilu karena Rahwana sudah tak ada lagi di dunia yang ditempatinya, tak menghirup lagi udara yang dihirupnya...
Sosok yang mencintainya dengan cinta sejati dan sepenuh hati, tanpa mengenal kata tapi.
,,,,.
