Apakah salah bila seorang istri harus waspada terhadap suami?
Tidak salah memang bila seorang wanita pantas waspada terhadap suaminya, tetapi bila hal itu masih dalam batas kewajaran dan tidak keterlaluan. Maksudnya bahwa kewaspadaan itu tidak menjadikan sebuah kecurigaan dan rasa tidak percaya kepada suami.
Kecurigaan adalah penyakit yang merusak dan tidak dapat disembuhkan, dan sayangnya sebagian wanita telah terkena penyakit tersebut.
Seorang wanita yang curiga dengan membayangkan bahwa suaminya adalah baik secara sah maupun tidak sah, tidak akan setia kepadanya. Ia membayangkan bahwa suaminya akan menikah lagi dengan wanita lain atau mau menikahinya.
Seorang wanita yang gampang curiga, sedang suaminya adalah seorang pimpinan perusahaan, maka ia akan mencurigai suaminya mempunyai hubungan dengan sekretarisnya atau wanita lain di lingkungan tempat suaminya bekerja. Ia tidak mempercayai suaminya karena pulang terlambat maupun melihat suaminya berbicara dengan wanita lain.
Terus bagaimanakah kalau suaminya membantu seorang janda dengan anak-anaknya?
Sang istri mungkin berpikiran kalau suaminya tertarik kepada janda tersebut dengan mengenyampingkan sikap kedermawanan dari suaminya.
Bila ada wanita lain yang memuji suaminya sebagai pria yang tampan dan berkelakuan baik, ia menyimpulkan bahwa suaminya tertarik dengan wanita itu.
Bila menemukan sehelai rambut di mobil ataupun di pakaian suaminya, maka ia akan berpikir bahwa ada wanita lain dalam hidup suaminya.
Wanita-wanita semacam ini hanya dengan alibi yang mereka buat, dengan pikiran-pikiran dan bukti-bukti yang tidak dapat di pegang, sedikit demi sedikit memberikan kepastian yang menyangkut dengan ketidaksetiaan suaminya.
Mereka memikirkannya siang dan malam. Mereka juga membicarakannya kepada orang lain di lingkungan tempat ia tinggal, baik teman maupun lawan, yang tentu dengan nama simpati mereka akan membesar-besarkan kecurigaan ini dan sebagai balasannya mereka kepada wanita ini akan bercerita tentang pria lain yang juga tidak setia.
Pembantahan dan percekcokan mulai terjadi. Sang istri mulai tidak lagi mempedulikan tanggung jawabannya sebagai seorang istri menyangkut pekerjaan rumah dan mengurus anak-anaknya, bahkan mungkin malah pulang kerumah orang tuanya. Ia akan mengontrolnya terus dan memeriksa saku-saku baju suaminya. Ia akan membaca surat-surat suaminya dan menafsirkan hal-hal yang sepele dengan ketidak setiaan suaminya.
Dengan sikap ini, ia akan membuat kehidupan keluarganya sulit, dan mengubah rumahnya menjadi neraka yang menyala, dimana ia sendiri juga menderita. Bila suaminya membawa bukti bahwa ia tidak bersalah, atau bersumpah bahwa ia tidak melakukan perbuatan yang salah bahkan sampai menangis pun, ia tetap tidak puas.
Pastilah para pembaca yang baik pernah menjumpai wanita semacam ini, tetapi ada manfaatnya bila kita mengetahui kasus-kasus semacam di bawah ini :
Kasus pertama
Ialah kasus perceraian setelah umur pernikahan sudah menginjak dua belas tahun, ini dikarenakan sang istri melihat suaminya berjalan dengan wanita cantik dijalanan, dan bersamaan dengan itu sang istri juga membaca majalah mingguan langganannya yang mempunyai kolom ramalan nasib. Dan dikatakan dalam ramalan bintang yang kebetulan sama dengan bintang suaminya bahwa yang mempunyai bintang tersebut setiap minggu ia akan bersenang-senang dengan wanita yang lahir pada bulan tertentu, dan sang istri lahirnya ternyata berbeda dengan bulan itu dan tidak termasuk yang disebutkan di dalam bintang itu. Disamping itu ia beranggapan bahwa suaminya tidak mencintainya seperti dulu yang sebenarnya dirinya lah yang telah menciptakan suasana tersebut didalam rumahtangganya, disebabkan sang isteri lebih percaya dengan ramalan bintang pada majalah tersebut dari pada menggunakan akal sehatnya, sehingga ia memilih berpisah dengan suaminya dari pada merasa selalu dikhianati sebab dari pengaruh majalah tersebut.
Dan disini bisa diambil kesimpulan bahwa ramalan bintang kalau kita mempercayainya, bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga dan anak-anak.
Kasus kedua
Kasus dimana seorang istri yang menemukan sehelai rambut wanita di dalam mobil suaminya. Ketika suami mau berangkat kerja sekalian mengantarkan sang istri main kerumah orang tuanya dan didalam perjalanan sang istri melihat kebelakang di dalam mobil dan tampak olehnya sehelai rambut di tempat duduk bagian belakang, lalu ia bertanya kepada suaminya tentang siapa pemilik rambut tersebut. Karena bingung dan juga tidak tahu, sang suami tidak bisa memberikan jawaban yang sebenarnya. Ketika sampai di rumah orang tua istri, sang istri langsung turun dan sang suami langsung berangkat kerja. Setelah selesai bekerja sang suami bergegas menjemput istrinya di rumah orang tuanya, tetapi sang istri menolak . Dan ketika suami mempertanyakan mengapa ga mau pulang bersamanya, justru malah sang istri menyarankan agar sang suami tinggal bersama pemilik rambut tersebut.
Kasus ketiga
Kasus dimana sebuah rumah tangga yang hampir hancur karena kesalah pahaman dan juga karena pengaruh dari bisik-bisik tetangga.
Seorang wanita mengeluh di pengadilan tentang kepulangan suaminya yang selalu terlambat dari biasanya, dan ia mulai cemas mengenai masalah itu dan kecurigaannya semakin bertambah besar karena di tambah pengaruh dari bisik-bisik tetangga. Dan beranggapan bahwa suaminya telah berbohong tentang keterlambatan saat pulang bekerja, dia mengira bahwa suaminya terlambat pulang bukan karena pekerjaan yang sejatinya adalah benar, tetapi mengira karena suaminya hanya ingin mencari kesenangan buat dirinya saja. Dan akibatnya istri tidak mau hidup dengan suami yang dikiranya adalah sebagai pembohong. Dan ketika di pengadilan suaminya mengeluarkan beberap surat dari dalam saku bajunya di hadapan jaksa, dan memintanya agar membacanya keras-keras agar terbukti bahwa dirinya tidak bersalah dan menghentikan sikap istrinya yang tidak layak itu. Jaksa mulai membaca satu demi satu surat tersebut yang memang menunjukan bahwa ia bekerja lembur dan menghadiri seminar-seminar. Bahkan karena kecurigaan istrinya yang begitu besar dan tidak mendasar juga mempengaruhi pikirannya bahwa sebenarnya istrinya bersikap demikian karena ingin menutupi bahwa istrinya sedang jatuh cinta dengan pria lain sehingga beranggapan bahwa istrinya mau berpisah dengannya karena ingin menikah dengan pria lain. Setelah istrinya maju melihat-lihat dan membaca surat tersebut, dan meyakini kebenaran surat tersebut memang benar menunjukan tentang keterlambatan pulangnya dari bekerja memang karena pekerjaan bukan karena wanita lain, dan wanita tersebut langsung menyadari kesalahannya dan berlari menghampiri suaminya sambil menangis karena bahagia dan meminta maaf atas atas kesalahan dan kekeliruan yang telah ia perbuat. Dan keduanya meninggalkan ruang sidang dengan begitu gembira karena sebelumnya keduanya bersitegang.
Kasus keempat
Kasus dimana seorang istri begitu saja percaya kepada orang lain tanpa membuktikannya terlebih dahulu. Temannya mengatakan bahwa dirinya telah melihat suaminya pergi ke tempat wanita lain. Karena penasaran sang istri pun pada suatu hari mengikuti suaminya dan perkataan temannya memang benar, sehingga suatu hari mereka datang ke pengadilan, dan sang istri meminta pengadilan untuk menghukum suaminya. Sedangkan sang suami, sambil memahami apa yang dikatakan oleh istrinya, mengatakan ke pengadilan bahwa suatu hari ia datang ke apotik untuk membeli obat, dan di apotik ia melihat seorang wanita sedang membeli susu bubuk tetapi uangnya tidak cukup untuk membeli susu tersebut, maka ia menawarkan bantuan. Dan pada akhirnya ia mengetahui bahwa wanita tersebut adalah janda miskin, dan memutuskan untuk terus memberikan bantuannya sebab karena sifat kedermawanan. Sedang para jaksa setelah mempertimbangkan hal tersebut dan menyadari kebenaran dari sang suami, maka kemudian mempersatukan kembali pasangan suami istri tersebut.
Kejadian-kejadian semacam itu sebenarnya telah terjadi di banyak keluarga. Suasana keluarga berubah menjadi suatu lingkungan yang pesimis, penuh kecurigaan dan permusuhan. Anak-anak akan menderita dan dampak terhadap perkembangan jiwa mereka begitu besar.
Bila pasangan ini terus menerus hidup dalam suasana seperti ini, maka mereka berdua akan menderita, dan bila mereka menunjukkan kekerasan hati masing-masing, mereka cenderung kepada suasana percekcokan. Dan bila berujung pada perceraian, maka baik laki-laki maupun wanitanya akan merugi. Karena disatu pihak laki-laki tidak akan mendapatkan istri yang lebih baik daripada istri yang pertama, di lain pihak anak-anak akan menderita dan tidak dapat menikmati kehidupan yang sehat. Anak-anak mungkin bahkan akan menjumpai persoalan-persoalan yang baru sehubungan dengan ayah atau ibu tiri.
Mungkin laki-laki itu akan berpikir, bahwa dengan menceraikan istrinya, ia dapat menikah dengan wanita yang sempurna yang dapat diajaknya untuk hidup dengan damai. Tetapi ini semua tidak lebih dari pada sekedar mimpi da dalam kenyataannya masih sangat jauh dari harapan. Dengan menceraikan istrinya, mungkin malah ia akan medapatkan persoalan-persoalan yang baru dengan istrinya yang baru.
Perceraian bukanlah jalan menuju kenyamanan dan kebahagiaan bagi wanita. Walaupun mungkin ia merasa puas telah menjalankan dendamnya, menikah lagi tidak mudah baginya. Mungkin ia harus hidup sendiri selama sisa waktu hidupnya, dan mungkin saja tidak merasakan kebahagiaan hidup anak-anaknya.
Walaupun ia menikah lagi, belum tentu suaminya yang baru akan sesuai dengan harapannya. Mungkin ia harus membesarkan anak-anak seorang pria yang istrinya telah meninggal dunia. Maka dari itu, baik perceraian, perbantahan, maupun percekcokan tidak dapat menyelamatkan pasangan suami istri. Tetapi ada cara lain untuk memecahkan persoalan tersebut.
Dan sikap yang paling baik adalah suami istri harus menghentikan perdebatan dan mencoba untuk bersikap logis. Laki-laki mempunyai tanggungjawab yang besar dalam hal masalah ini, dan dalam kenyataannya kunci pemecahannya berada di tangannya. Laki-laki melalui kesabaran dan pemberian maaf, dapat menyelamatkan diri mereka dari permasalahan dan membantu menghilangkan unsur kecurigaan pada istri-istri mereka.